FLONA FATHIA
Flora dan Fauna di Sekitar Sekolah Alam Fathia Sukabumi
@yandaawan
Flora dan Fauna di Sekitar Sekolah Alam Fathia Sukabumi
@artridwan April 28, 2026 Admin Bandung IndonesiaKura-kura Ambon: Jenis kura-kura air tawar Asia Tenggara
Cuora amboinensis: Nama ilmiah spesies
Semi-akuatik: Hidup di darat dan air
Omnivora: Pemakan tumbuhan dan hewan
Habitat rawa: Tempat hidup alami
Telur ovipar: Berkembang biak dengan
bertelur
Ditemukan di Indonesia, Malaysia, dan
Filipina
Hidup di rawa, sungai kecil, dan sawah
Umur bisa puluhan tahun
Aktif pada malam hari (nokturnal)
Makan buah, serangga, ikan kecil, tumbuhan
air
Ukuran dewasa 20–25 cm
Betina lebih besar dari jantan
Bertelur 1–5 butir
Butuh keseimbangan habitat air dan darat
Suhu memengaruhi aktivitas dan metabolisme
Kelestarian habitat menentukan kelangsungan
hidup
Pola makan omnivora membantu bertahan
Nokturnal untuk menghindari panas
Kualitas air memengaruhi kesehatan
Lingkungan stabil memperpanjang umur
Edukasi penting untuk pelestarian
Kura-kura Ambon: Jenis kura-kura air tawar Asia Tenggara
Cuora amboinensis: Nama ilmiah spesies
Semi-akuatik: Hidup di darat dan air
Omnivora: Pemakan tumbuhan dan hewan
Habitat rawa: Tempat hidup alami
Telur ovipar: Berkembang biak dengan
bertelur
Ditemukan di Indonesia, Malaysia, dan
Filipina
Hidup di rawa, sungai kecil, dan sawah
Umur bisa puluhan tahun
Aktif pada malam hari (nokturnal)
Makan buah, serangga, ikan kecil, tumbuhan
air
Ukuran dewasa 20–25 cm
Betina lebih besar dari jantan
Bertelur 1–5 butir
Butuh keseimbangan habitat air dan darat
Suhu memengaruhi aktivitas dan metabolisme
Kelestarian habitat menentukan kelangsungan
hidup
Pola makan omnivora membantu bertahan
Nokturnal untuk menghindari panas
Kualitas air memengaruhi kesehatan
Lingkungan stabil memperpanjang umur
Edukasi penting untuk pelestarian
Burung Kutilang
Kutilang adalah burung dari keluarga
Pycnonotidae.
Nama ilmiahnya adalah Pycnonotus
aurigaster.
Burung ini banyak ditemukan di Asia
Tenggara termasuk Indonesia.
Kutilang memiliki suara khas yang nyaring
dan sering terdengar di pagi hari.
Ciri khasnya adalah bagian kepala berwarna
hitam dan tubuh coklat keabu-abuan.
Bagian bawah ekor berwarna merah atau
jingga.
Kutilang hidup di lingkungan terbuka
seperti taman, kebun, dan pekarangan.
Burung ini aktif pada siang hari (diurnal).
Makanan utamanya buah-buahan dan serangga.
Kutilang mudah beradaptasi dengan
lingkungan manusia.
Burung ini sering terlihat berpasangan atau
dalam kelompok kecil.
Kutilang membuat sarang dari ranting dan
rumput.
Telurnya biasanya berjumlah 2–3 butir.
Kutilang termasuk burung yang tidak terlalu
pemalu.
Populasi kutilang relatif stabil dibanding
burung kicau lain.
Kutilang berperan dalam penyebaran biji
tanaman melalui konsumsi buah.
Adaptasi tinggi memungkinkan kutilang hidup
di berbagai lingkungan.
Pola makan omnivora membantu kelangsungan
hidupnya.
Kicauan berfungsi sebagai komunikasi
antarburung.
Kehadiran kutilang menunjukkan lingkungan
yang masih mendukung kehidupan.
Interaksi dengan manusia dapat meningkatkan
populasi di perkotaan.
Kutilang membantu mengendalikan populasi
serangga.
Lingkungan yang bersih dan hijau mendukung
kehidupan burung.
Sarang merupakan bagian penting dalam
reproduksi dan perlindungan telur.
Burung diurnal memanfaatkan cahaya matahari
untuk aktivitas.
Rantai makanan menjaga keseimbangan
populasi makhluk hidup.
Kerusakan habitat dapat mengurangi populasi
burung.
Keanekaragaman hayati penting untuk
keseimbangan ekosistem.
Konservasi diperlukan untuk menjaga
keberlanjutan spesies.
Peran manusia penting dalam menjaga
lingkungan hidup burung.
Burung Kutilang
Kutilang adalah burung dari keluarga
Pycnonotidae.
Nama ilmiahnya adalah Pycnonotus
aurigaster.
Burung ini banyak ditemukan di Asia
Tenggara termasuk Indonesia.
Kutilang memiliki suara khas yang nyaring
dan sering terdengar di pagi hari.
Ciri khasnya adalah bagian kepala berwarna
hitam dan tubuh coklat keabu-abuan.
Bagian bawah ekor berwarna merah atau
jingga.
Kutilang hidup di lingkungan terbuka
seperti taman, kebun, dan pekarangan.
Burung ini aktif pada siang hari (diurnal).
Makanan utamanya buah-buahan dan serangga.
Kutilang mudah beradaptasi dengan
lingkungan manusia.
Burung ini sering terlihat berpasangan atau
dalam kelompok kecil.
Kutilang membuat sarang dari ranting dan
rumput.
Telurnya biasanya berjumlah 2–3 butir.
Kutilang termasuk burung yang tidak terlalu
pemalu.
Populasi kutilang relatif stabil dibanding
burung kicau lain.
Kutilang berperan dalam penyebaran biji
tanaman melalui konsumsi buah.
Adaptasi tinggi memungkinkan kutilang hidup
di berbagai lingkungan.
Pola makan omnivora membantu kelangsungan
hidupnya.
Kicauan berfungsi sebagai komunikasi
antarburung.
Kehadiran kutilang menunjukkan lingkungan
yang masih mendukung kehidupan.
Interaksi dengan manusia dapat meningkatkan
populasi di perkotaan.
Kutilang membantu mengendalikan populasi
serangga.
Lingkungan yang bersih dan hijau mendukung
kehidupan burung.
Sarang merupakan bagian penting dalam
reproduksi dan perlindungan telur.
Burung diurnal memanfaatkan cahaya matahari
untuk aktivitas.
Rantai makanan menjaga keseimbangan
populasi makhluk hidup.
Kerusakan habitat dapat mengurangi populasi
burung.
Keanekaragaman hayati penting untuk
keseimbangan ekosistem.
Konservasi diperlukan untuk menjaga
keberlanjutan spesies.
Peran manusia penting dalam menjaga
lingkungan hidup burung.
Murai batu adalah burung dari keluarga Muscicapidae.
Nama ilmiahnya adalah Copsychus
malabaricus.
Burung ini banyak ditemukan di Asia
Tenggara termasuk Indonesia.
Murai batu terkenal karena suara kicauannya
yang merdu dan bervariasi.
Burung ini memiliki ekor panjang yang
menjadi ciri khas.
Warna bulunya umumnya hitam mengkilap
dengan bagian dada coklat kemerahan.
Murai batu hidup di hutan tropis dan
semak-semak.
Burung ini bersifat teritorial dan agresif
terhadap sesama.
Makanan utamanya serangga seperti jangkrik
dan ulat.
Murai batu juga memakan buah-buahan kecil.
Burung ini aktif pada pagi dan sore hari.
Murai batu sering dipelihara sebagai burung
kicau.
Jantan memiliki suara lebih variatif
dibanding betina.
Murai batu mampu menirukan suara burung
lain (masteran).
Populasi murai batu di alam mulai menurun
akibat perburuan.
Murai batu berperan dalam menjaga
keseimbangan populasi serangga.
Kicauan digunakan sebagai alat komunikasi
dan penanda wilayah.
Sifat teritorial membantu mempertahankan
sumber makanan.
Adaptasi warna bulu membantu kamuflase di
habitat alami.
Keanekaragaman suara menunjukkan kecerdasan
burung.
Lingkungan yang baik mempengaruhi kualitas
kicauan.
Interaksi manusia dapat meningkatkan atau
menurunkan populasi.
Penangkaran dapat membantu pelestarian jika
dilakukan dengan benar.
Perburuan liar dapat mengancam kelestarian
spesies.
Habitat yang rusak berdampak pada
keberlangsungan hidup burung.
Burung kicau memiliki nilai ekonomi di
masyarakat.
Perawatan yang baik meningkatkan kesehatan
dan performa burung.
Rantai makanan menjaga keseimbangan
ekosistem.
Konservasi diperlukan untuk menjaga
kelangsungan spesies.
Etika dalam memelihara hewan harus
diperhatikan.
Murai batu adalah burung dari keluarga Muscicapidae.
Nama ilmiahnya adalah Copsychus
malabaricus.
Burung ini banyak ditemukan di Asia
Tenggara termasuk Indonesia.
Murai batu terkenal karena suara kicauannya
yang merdu dan bervariasi.
Burung ini memiliki ekor panjang yang
menjadi ciri khas.
Warna bulunya umumnya hitam mengkilap
dengan bagian dada coklat kemerahan.
Murai batu hidup di hutan tropis dan
semak-semak.
Burung ini bersifat teritorial dan agresif
terhadap sesama.
Makanan utamanya serangga seperti jangkrik
dan ulat.
Murai batu juga memakan buah-buahan kecil.
Burung ini aktif pada pagi dan sore hari.
Murai batu sering dipelihara sebagai burung
kicau.
Jantan memiliki suara lebih variatif
dibanding betina.
Murai batu mampu menirukan suara burung
lain (masteran).
Populasi murai batu di alam mulai menurun
akibat perburuan.
Murai batu berperan dalam menjaga
keseimbangan populasi serangga.
Kicauan digunakan sebagai alat komunikasi
dan penanda wilayah.
Sifat teritorial membantu mempertahankan
sumber makanan.
Adaptasi warna bulu membantu kamuflase di
habitat alami.
Keanekaragaman suara menunjukkan kecerdasan
burung.
Lingkungan yang baik mempengaruhi kualitas
kicauan.
Interaksi manusia dapat meningkatkan atau
menurunkan populasi.
Penangkaran dapat membantu pelestarian jika
dilakukan dengan benar.
Perburuan liar dapat mengancam kelestarian
spesies.
Habitat yang rusak berdampak pada
keberlangsungan hidup burung.
Burung kicau memiliki nilai ekonomi di
masyarakat.
Perawatan yang baik meningkatkan kesehatan
dan performa burung.
Rantai makanan menjaga keseimbangan
ekosistem.
Konservasi diperlukan untuk menjaga
kelangsungan spesies.
Etika dalam memelihara hewan harus
diperhatikan.
![]() |
| Musang Pandan foto : kompas |
Musang pandan adalah hewan mamalia dari keluarga Viverridae.
Nama ilmiahnya adalah Paradoxurus
hermaphroditus.
Musang pandan banyak ditemukan di Asia
Tenggara termasuk Indonesia.
Hewan ini aktif pada malam hari
(nokturnal).
Musang pandan memiliki tubuh ramping dengan
panjang sekitar 40–70 cm.
Berat tubuhnya berkisar antara 2–5 kg.
Warna bulunya abu-abu kecoklatan dengan
bercak hitam.
Musang pandan memiliki penciuman yang
tajam.
Makanan utamanya buah-buahan seperti pisang
dan kopi.
Musang juga memakan serangga dan hewan
kecil.
Hewan ini mampu memanjat pohon dengan
sangat baik.
Musang pandan memiliki kelenjar yang
menghasilkan bau khas.
Musang pandan dikenal sebagai penghasil
kopi luwak.
Proses kopi luwak berasal dari biji kopi
yang dimakan dan dikeluarkan kembali.
Musang pandan dapat hidup di hutan, kebun,
hingga dekat pemukiman manusia.
Musang pandan berperan penting dalam
penyebaran biji tanaman.
Adaptasi nokturnal membantu musang
menghindari predator.
Kemampuan arboreal mendukung kelangsungan
hidup di hutan.
Pola makan omnivora membuat musang mudah
beradaptasi.
Keberadaan musang menunjukkan keseimbangan
ekosistem.
Musang membantu regenerasi tanaman melalui
kotorannya.
Interaksi manusia dan musang dapat
berdampak positif dan negatif.
Eksploitasi musang untuk kopi luwak dapat
mengancam kesejahteraannya.
Pelestarian habitat penting untuk
keberlangsungan hidup musang.
Musang memiliki sistem pencernaan unik yang
mempengaruhi kualitas kopi.
Hewan nokturnal cenderung memiliki indra
penciuman dan pendengaran tajam.
Perubahan lingkungan dapat memaksa musang
mendekati pemukiman.
Rantai makanan menjaga populasi musang
tetap seimbang.
Konservasi satwa liar diperlukan untuk
mencegah kepunahan.
Pemanfaatan hewan harus memperhatikan etika
dan kelestarian lingkungan.
![]() |
| Musang Pandan foto : kompas |
Musang pandan adalah hewan mamalia dari keluarga Viverridae.
Nama ilmiahnya adalah Paradoxurus
hermaphroditus.
Musang pandan banyak ditemukan di Asia
Tenggara termasuk Indonesia.
Hewan ini aktif pada malam hari
(nokturnal).
Musang pandan memiliki tubuh ramping dengan
panjang sekitar 40–70 cm.
Berat tubuhnya berkisar antara 2–5 kg.
Warna bulunya abu-abu kecoklatan dengan
bercak hitam.
Musang pandan memiliki penciuman yang
tajam.
Makanan utamanya buah-buahan seperti pisang
dan kopi.
Musang juga memakan serangga dan hewan
kecil.
Hewan ini mampu memanjat pohon dengan
sangat baik.
Musang pandan memiliki kelenjar yang
menghasilkan bau khas.
Musang pandan dikenal sebagai penghasil
kopi luwak.
Proses kopi luwak berasal dari biji kopi
yang dimakan dan dikeluarkan kembali.
Musang pandan dapat hidup di hutan, kebun,
hingga dekat pemukiman manusia.
Musang pandan berperan penting dalam
penyebaran biji tanaman.
Adaptasi nokturnal membantu musang
menghindari predator.
Kemampuan arboreal mendukung kelangsungan
hidup di hutan.
Pola makan omnivora membuat musang mudah
beradaptasi.
Keberadaan musang menunjukkan keseimbangan
ekosistem.
Musang membantu regenerasi tanaman melalui
kotorannya.
Interaksi manusia dan musang dapat
berdampak positif dan negatif.
Eksploitasi musang untuk kopi luwak dapat
mengancam kesejahteraannya.
Pelestarian habitat penting untuk
keberlangsungan hidup musang.
Musang memiliki sistem pencernaan unik yang
mempengaruhi kualitas kopi.
Hewan nokturnal cenderung memiliki indra
penciuman dan pendengaran tajam.
Perubahan lingkungan dapat memaksa musang
mendekati pemukiman.
Rantai makanan menjaga populasi musang
tetap seimbang.
Konservasi satwa liar diperlukan untuk
mencegah kepunahan.
Pemanfaatan hewan harus memperhatikan etika
dan kelestarian lingkungan.