@yandaawan

#NulisRandom2015 #Day1 #artridwan #done

Seperti judul tulisan ini, mulai hari ini senin, 1 juni 2015 saya coba mengikuti ajakan untuk #NulisRandom2015 setiap hari dari NulisBuku.Com

Saya sepakat dengan admin bahwa perjuangan untuk menulis setiap hari, di setiap pagi itu adalah pergumulan hampir setiap orang (khususnya penulis/yang suka nulis) di dunia. salah satu sebabnya yang memberatkan adalah tidak adanya teman seperjalanan dalam hal ini yang sama-sama mengingatkan dan menguatkan untuk menulis.

Mulai hari Senin, tanggal 1 Juni 2015 ini, saya coba mengikuti ajakan admin nulisbuku.com yang mengajak dan ingin mencari teman seperjalanan menulis setiap hari.
Syaratnyapun mudah hanya satu: TIDAK ADA SYARAT. hehehe... mudah banget kan gak ribet?
Penulis, Blogger boleh menulis apapun, sebanyak apapun bahkan jika memang hanya ingin menuliskan satu paragraf saja juga boleh. Tujuan ajakan ini hanya satu: ingin mengelabui otak supaya kebiasaan menulis ini menjadi sebuah kebiasaan rutin yang harus dilakukan. Seperti menggosok gigi setiap pagi. bisa bersenang-senang dalam menulis tanpa takut dianggap tidak inspiratif, bodoh, dan lain sebagainya.

Terus gimana donk caranya? caranya posting tulisan di notes Facebook, atau boleh juga di blog pribadi. Kemudian bagikan link postingan tersebut kepada siapa pun juga dipersilakan jika ingin memposting paragraf pertama dan link blog di  Grup Nulisbuku Community yang ada di facebook.

Ajakan ini akan berlaku mulai Senin, 1 Juni 2015 hingga Selasa, tanggal 30 Juni 2015.

Pada hari terakhir nanti, akan dibagikan pengalaman ini. Kita pasti akan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang berbeda-beda.
Siap? Mari memulai petualangan ini bersama, kita mulai menulis di hari pertama, Senin, tanggal 1 Juni 2015!
Mulai !

Saya sudah memulainya, jika sobat ingin memulai juga mulailah, jangan hanya membaca tulisan ini, abaikan saja dan menulislah apa yang sobat sukai dan kuasai. ya! mulai dari 2 hal itu; yang kita SUKAI dan kita KUASAI :) supaya tulisan kita bisa mengalir.
untuk memulai #NulisRandom2015 #Day1 ini saya coba nulis yang ringan-ringan saja, mulai dari perkenalan deh.

Perkenalkan nama saya sebut saja @artridwan nama untuk akun-akun media sosial saya, saya (mudah-mudahan konsisten) blogger, penulis, backpacker dan fasilitator #SekolahAlam di Sukabumi.
sedikit profil saya sobat bisa baca di sini.

saya baru menerbitkan 1 buku di nulisbuku.com buku pertama berjudul FISH DIARY Catatan Harian Anak Sekolah Alam terbit bulan januari 2015
Alhamdulillah akhirnya bisa terbit dan bisa diapresiasi oleh para pembaca khususnya para pegiat dunia pendidikan dan pegiat sekolah alam se-nusantara. O iya sobat jua bisa baca endorsement buku FISH DIARY di sini.


Untuk menyebarkan semangat menulis buat para pelajar,  saya membentuk klub menulis untuk anak-anak namanya PENCIL CLUB Klub Penulis Cilik



untuk tulisan hari pertama ini saya cukupkan dulu deh ya :)
 #NulisRandom2015 #Day1 #artridwan #done
salam hangat, jabat erat
@artridwan

Endorsement Buku MABIT

Buku MABIT


Endorsement buku "MABIT"
Kisah Seru Angkatan Kesatu
SD Sekolah Alam Fathia Sukabumi

Editor : Awan T. Ridwan
Disain Cover : Banyu Rasaning Kusuma

Subhaanallah, walhamdulillah wala ilaahaillallahu akbar, ucapan itu yang pertama kali saya ucapkan saat membaca buku ini, konsep pendidikan anak yang sederhana dengan hasil luar biasa, kreatif, inovatif dan edukatif. MABIT (malam bina iman dan taqwa) merupakan model pendidikan yang tepat, mengajarkan konsep spiritual hubungan dengan Allah, dari mulai berjamaah, qiyamullail, tilawah qur,an, dzikir, berdo'a dengan khusuk. MABIT memberikan muatan emosional, kebersamaan, kerjasama, kepeduliaan, buku ini pun memberikan muatan intelektual, bagaimana mengajarkan keutamaan sunnah nabi yang dilakukan pada saat MABIT. Semoga buku ini memberikan banyak inspirasi dan ladang kebaikan. luar biasa!"
Ustadz Baharsyah Al-Munir ( Dokter Cinta )

Assalamu'alaikum, Saat pertama kali mendapatkan informasi tentang program "mabit", di benak saya langsung terpikir, semoga program ini efektif untuk angkatan pertama ini. Di perjalanan program, banyak hal positif terjadi, sungguh membuat saya terharu. Terciptanya rasa kebersamaan dan kasih sayang serta menambahnya kesadaran akan arti berjuang. Program mabit memberikan implikasi positif pada anak-anak. Sehingga sampai saat ini pun tali ukhuwah masih terjalin walau mereka melanjutkan sekolah di tempat terpisah. Apalagi setelah hasil nilai ujian akhir dibagikan. Subhanallah!!! Hanya itu yang terucap dari bibir dan tetes air mata yang mengalir. Banyak pihak menyangsikan sekolah Fathia. Saya dan suami adalah salah satu orangtua yang setuju sehingga kami memutuskan tidak ragu untuk hijrah dari Jakarta ke Sukabumi dengan alasan ada sekolah Fathia. Memang banyak hal yang perlu ditingkatkan dari program mabit, tapi saya menilai bahwa proses itu indah... semua perlu proses... Kami lebih menghargai bagaimana anak-anak berjuang dan menikmati proses yang mereka jalani dalam menuju sukses.
Hasil yang didapat akan menjadikan mereka bersyukur akan apa yang telah mereka raih.Teruslah berkembang dan menjadi baik. Menebar kebaikan dan mencetak calon anak-anak dengan kecerdasan spiritual yang optimal sehingga mereka kelak menjadi orang-orang sukses yang pandai bersyukur, aamiin.
Bunda Kindy - Walimurid Kintan "ANGKASA"

Hal yang berbeda adalah ketika SD Islam Fathia mengadakan kegiatan MABIT. MABIT yang dimaksud di sini adalah MAlam Bina Iman dan Takwa untuk siswa-siswa kelas 6 yang akan melaksanakan ujian akhir. 
Walaupun sudah diterangkan tujuan daripada MABIT itu sendiri, tapi bagi saya MABIT itu adalah pengala
MAn yang Benar-benar Indah dan bermanfaaT. 
Saya memang tidak mengalaminya sendiri. Pengalaman itu bisa saya rasakan dari anak saya selama mengikuti kegiatan MABIT. Memang tidak teruraikan dengan kata-kata, namun dari sikap dan perilakunya yang nyata terlihat dan terasa lebih baik.
Pendewasaan adalah kata yang tepat bagi anak saya setelah mengikuti MABIT. Mengerti posisinya sebagai hamba Allah membuatnya lebih sadar akan kewajiban untuk melaksanakan perintahNya. Dengan adanya tahajjud dan berdzikir melatih dirinya untuk menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah. Juga dengan tadabur yang mendekatkannya pada alam dan mudah-mudahan menjadi semangat untuk menjadi manusia yang berguna bagi alam semesta. Aamiin.
Setiap kali MABIT hal yang paling ‘menghebohkan’ adalah menyiapkan perlengkapan MABIT. Kemandirian untuk mengurus dirinya sendiri adalah hal yang tak kalah penting untuk kelanjutan pendidikan dan kehidupannya. Tidak ada teori khusus untuk mengurus diri sendiri, tapi pembiasaanlah yang menjadi pelajaran yang terbaik.
Pengalaman bermalam bersama teman juga menjadi bagian yang menyenangkan. Saling mengetahui kebiasaan dan sikap asli teman adalah bekal mereka untuk menghadapi dunia luar yang lebih luas. Bersama dalam keadaan yang seadanya adalah saat yang membahagiakan. Bermalam di kasur beralas lantai, makan dengan menu yang sama adalah sebagian dari menyadarkan artinya kesederhanaan. Saling berbagi, menghargai, empati, toleransi, simpati, adalah sikap-sikap yang muncul pada pribadi anak-anak dengan sendirinya. Karena kebersamaan ‘senasib dan sepenanggungan’ inilah yang mendekatkan satu dengan yang lainnya. Setiap anak tentunya akan mendapat masalah bersosialiasi yang membuat mereka lebih dewasa dalam menyikapinya.
Tanpa mengurangi persiapan menghadapi ujian akhir, adanya Tes Uji Coba adalah sarana untuk melatih mereka agar mampu belajar dalam keadaan apapun. Tidak harus di atas meja, karena belajar dapat dilakukan dimana saja. Dan yang terpenting adalah kesadaran untuk belajar yang tumbuh dari diri sendiri.
Dan hal yang terunik dari kegiatan MABIT ini adalah semua dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan mengasikan. Fun game yang dipersiapkan atau permainan yang lucu dan spontan adalah ciri dari sifat polos mereka sebagai anak-anak. Pendewasaan yang mereka alami seakan-akan terjadi dengan sangat natural dan tanpa tekanan atau bahkan paksaan. Sepertinya mereka dengan ‘rela’ siap untuk menjadi insan yang ‘dewasa’ dan bertanggung jawab.
Ibu Mia Nurdewi ( Ibunda Rayyan )

Bismillahirrohmaanirrohiim
Setiap karya yang lahir dari seorang anak apapun bentuknya sangat layak diapresiasi. Untuk buku kumpulan kisah MABITnya siswa angkatan pertama Fathia Islamic School maka kalimat subhanalloh dan acungan dua jempol layak diberikan. 
Saya secara pribadi bangga menjadi bagian kisah-kisah seru ini. Sangat terharu ketika begitu ditunggunya saya oleh mereka pada saat MABIT pertama. Saat itu saya tidak bisa hadir karena dalam perjalanan menuju Sukabumi dengan motor saya, terjadi musibah tabrakan yang menimpa saya dan membatalkan saya berangkat ke sana. Tapi rasa kecewa itu terbayar karena di kesempatan berikutnya saya bisa bertemu dengan anak-anak hebat ini. Memberi kisah inspirasi, berdiskusi dan kembali bercengkrama dengan anak-anak yang pernah jadi muridku di kelas satu. Dan bangga sekali karena berkali-kali disebut di buku ini.
Menjadi angkatan pertama tidak akan terlupa. Dan MABIT menjadikan pengalaman tak terlupa itu semakin berwarna. Selamat buat anak-anaku mudah-mudahan ini adalah karya pertama yang akan melahirkan karya lebih hebat di masa datang. Semoga kalian terus melangkah maju. Salam hangat
.
Yasir Amarullah
Sekolah Alam Bogor

Assalaamu'alaikum Wr. Wb. Pertama izinkan saya menyampaikan apresiasi dan rasa bangga saya terhadap anak-anak yang telah berani "menulis" dalam buku ini. Anak-anaku ANGKASA (ANGKAtan keSAtu), tulisan kalian sangat menginspirasi. It's great and you are the best! Two thumbs up for you all !!! Yipppiii !!!
Penghargaan yang tinggi juga saya sampaikan kepada seluruh yanda bunda sekolah alam Fathia serta yayasan Assyukuriyah yang telah begitu serius membuat serta melaksanakan program mendidik, mengasuh, dan mendampingi anak-anak , termasuk dalam program MABIT yang pertama ini.
Seperti yg telah diungkapkan dalam tulisan sebelumnya bahwa tujuan mabit pada intinya adalah untuk meningkatkan iman takwa serta membangun karakter positif setiap anak,. menurut saya tujuan tersebut merupakan sebuah tujuan besar yang sebenarnya itulah tujuan dara pendidikan. Dengan tujuan yang besar tersebut saya berharap kegiatan ini akan terus dilaksanakan dengan berbagai inovasi serta perbaikan di masa selanjutnya.
Ada yang perlu diingatkan kembali bahwa tujuan besar dari kegiatan mabit ini tidak dapat dicapai dalam waktu yang singkat karena ini seharusnya merupakan proses yang konsisten dan terus menerus (continuous). Dengan demikian ada baiknya di masa yang akan datangg kegiatan ini dimulai di awal tahun ajaran agar lebih longgar waktunya dan proses pembentukan karakter positif anak-anak akan lebih terpantau.
Untuk itu saya berharap yanda bunda tetap bersemangat untuk terus melakukan inovasi, memperbaiki kekurangan, jangan cepat puas dengan keberhasilan ANGKASA, karena tantangan akan semakin seru di angkatan-angkatan selanjutnya. Semangat yandaaaaa dan bundaaaaa......!!!
wassalamu'alaikum wr.wb
.
Peggy Gumilang Dwihandayani
Ketua PRO Fathia. Komite Sekolah Alam Fathia Sukabumi




Resensi Buku Sekolahnya Manusia



Resensi Buku SEKOLAHNYA MANUSIA
DATA BUKU:

Judul                 : Sekolahnya Manusia
No. ISBN          : 978-979-1284-28-8
Penulis             : Munif Chatib
Penerbit           : Kaifa
Tanggal terbit : Februari 2012
Jumlah Hlm.    : 188
Harga Buku     : Rp. 42.000

SEKOLAHNYA MANUSIA :
Sekolah yang memanusiakan manusia
           
Sekolah yang memanusiakan manusia, itulah kata yang tepat untuk sekolah yang digagas Munif Chatib dalam bukunya  Sekolahnya Manusia.
Sekolahnya Manusia.adalah buku karya Munif Chatib yang pertama. Dalam buku ini Munif Chatib mencoba berbagi tentang bagaimana pengalamannya membangun sekolah yang awalnya tidak mempunyai kepercayaan dari masyarakat, lalu berubah menjadi sekolah yang unggul dalam arti sebenarnya. Membaca Sekolahnya Manusia seperti mengajak kita kembali ke desain sekolah yang manusiawi. Sekolah yang mengandalkan ‘the best process’ bukan ‘the best input”. Sekolahnya Manusia menerapkan konsep Multiple Intelligences, yang awalnya adalah sebuah teori kecerdasan kemudian diaplikasikan ke dalam dunia kelas atau sekolah. 

Munif Chatib dalam mengemukakan konsep multiple intelligences tersebut berawal dari adanya teori Howard Gardner, sebagai pencetus dari multiple intelligences. Selain itu, Thomas Amstrong pun ikut mendukung Munif dalam melakukan penerapan multiple intelligences, agar bisa diterapkan dalam pendidikan di Indonesia.

Munif Chatib dalam pembelajaran berbasis multiple intelligences nya dengan melakukan 3 kegiatan penting, yakni meliputi: 1) Tahap Input, biasa dilakukan dengan melakukan MIR (Multiple Intelligences Research); 2) Tahap proses, Munif membaginya menjadi 4 tahap yaitu (Brain, Strategi Mengajar, Produk, dan Benefit); dan 3) Output, pada tahap ini dilakukan penilaian Autentik.
 
Pada tahap Input ini, Munif Chatib menggunakan Multiple Intelligences Research (MIR) dalam penerimaan peserta didik barunya. Proses penerimaan tersebut dilakukan dengan menggunakan sistem kuota artinya apabila sekolah ini berkapasitas 100 peserta didik dalam penerimaan peserta didik barunya, maka ketika pendaftar telah mencapai 100 peserta didik, pendaftaran akan ditutup. Jadi sekolah ini tidak menerapkan tes seleksi masuk dalam Penerimaan Peserta didik Baru. Kemudian peserta didik baru yang telah diterima akan mengikuti proses (MIR). MIR adalah semacam alat riset psikologis yang mengeluarkan deskripsi kecenderungan kecerdasan majemuk anak dan gaya belajarnya. Dan dari analisis terhadap kecenderungan kecerdasan tersebut, dapat disimpulkan gaya belajar terbaik seseorang. (MIR) bukanlah alat tes seleksi masuk sekolah, melainkan sebuah riset yang ditujukan kepada peserta didik dan orangtuanya untuk mengetahui kecenderungan kecerdasan peserta didik yang paling menonjol dan berpengaruh. Data (MIR) ini bertujuan untuk pengetahuan guru dalam mengetahui gaya belajar masing-masing peserta didiknya. Selain itu, dari hasil (MIR) tersebut, guru akan masuk ke dunia peserta didik sehingga peserta didik merasa nyaman dan tidak berhadapan dengan resiko kegagalan dalam proses belajar.

Pada tahapan yang kedua, adalah tahapan pada proses pembelajaran, dimana nantinya gaya mengajar gurunya harus sama dengan gaya belajar peserta didiknya. Pada tahapan yang kedua adalah tahapan pada proses pembelajaran, dimana nantinya gaya mengajar gurunya harus sama dengan gaya belajar peserta didiknya. Pola kerja sama yang harus diketahui oleh guru adalah proses pembelajaran yang bersifat dua arah pada hakikatnya adalah dua proses yang berbeda: proses pertama, guru mengajar atau memberikan presentasi, dan proses kedua yaitu peserta didik belajar atau peserta didik beraktivitas.

Pada tahap output merupakan tahap terakhir dari tiga tahap penting pembelajaran multiple intelligences di sekolah. Pada Output, adalah proses penilaian dari proses pembelajaran. Dalam pembelajaran berbasis multiple intelligences ini, maka penilaiannya yaitu dengan menggunakan penilaian autentik. Penilaian autentik adalah sebuah penilaian terhadap sosok utuh seorang peserta didik yang bukan diukur dari segi kognitifnya saja melainkan juga diukur dari segi afektif dan psikomotorik peserta didik.

Jadi, Janganlah menyekolahkan anak di sekolahnya robot, yaitu sekolah yang hanya membentuk anak-anak kita menjadi robot hidup dan tak punya kepedulian. Orangtua harus punya bekal pengetahuan yang benar tentang kriteria sekolah baik untuk anaknya. Jangan sampai terkecoh dengan label sekolah favorit atau fasilitas yang mewah. Sekolahkanlah anak di sekolahnya manusia, sekolah yang tidak membunuh kecerdasan yang ada pada anak.

@artridwan | www.artridwan.my.id. Diberdayakan oleh Blogger.
Back To Top